Minggu, 21 Desember 2025

EA - 6 Zachman Framework

 Tugas :

  1. Apa yang Anda Ketahui Tentang Zachman Framework dalam EA ?
  2. Sebutkan dan Jelaskan komponen yang masuk dalam Kolom dan Baris pada matrik Zachman Framework ?

Jawaban :

  1. Zachman Framework dalam konteks Arsitektur Enterprise dipahami sebagai sebuah skema klasifikasi logis atau taksonomi yang berfungsi untuk mengorganisasi representasi deskriptif dari suatu organisasi. Secara konseptual, kerangka kerja ini bukan merupakan sebuah metodologi pengembangan sistem yang bersifat sekuensial, melainkan sebuah struktur pengorganisasian artifak yang memungkinkan organisasi untuk melihat dirinya sendiri dari berbagai sudut pandang yang komprehensif. Latar belakang kemunculannya didasari oleh kebutuhan untuk mengelola kompleksitas sistem informasi dan memastikan adanya integrasi yang kuat antara strategi bisnis dengan implementasi teknologi. Tujuan utama dari penerapan Zachman Framework adalah untuk menyediakan landasan dokumentasi yang sistematis sehingga organisasi dapat meminimalkan redundansi data, meningkatkan fleksibilitas terhadap perubahan, serta memfasilitasi komunikasi yang efektif antara pemangku kepentingan bisnis dan pengembang teknis dalam pengelolaan aset informasi enterprise.

  2. Komponen utama dalam matriks Zachman Framework terdiri dari enam kolom dan enam baris yang saling berinteraksi untuk membentuk perspektif arsitektur yang utuh. Kolom-kolom dalam matriks ini merepresentasikan dimensi komunikasi fundamental yang mencakup dimensi data yang menjelaskan apa yang menjadi entitas informasi bisnis, dimensi fungsi yang menguraikan bagaimana proses bisnis dijalankan, dimensi jaringan yang menetapkan di mana lokasi aktivitas berlangsung, dimensi manusia yang mengidentifikasi siapa saja yang terlibat, dimensi waktu yang menentukan kapan siklus bisnis terjadi, serta dimensi motivasi yang menjelaskan mengapa suatu kebijakan atau strategi diterapkan. Sementara itu, komponen baris menggambarkan transformasi perspektif dari berbagai tingkatan pemangku kepentingan, yang dimulai dari pandangan perencana mengenai cakupan kontekstual, pandangan pemilik mengenai model bisnis konseptual, pandangan perancang mengenai model sistem logis, pandangan pembangun mengenai model fisik teknologi, pandangan pelaksana mengenai detail implementasi spesifik, hingga pandangan pengguna mengenai operasional sistem yang sudah berfungsi. Keterkaitan antara kolom yang mendefinisikan substansi dan baris yang mendefinisikan kedalaman abstraksi ini memastikan bahwa setiap aspek organisasi ditinjau secara mendalam dan konsisten dari segala tingkatan.

Selasa, 16 Desember 2025

EA - 5 The Open Group Architecture Framework -TOGAF

 Tugas :

  1. Apa yang Anda Ketahui Tentang The Open Group Architecture Framework (TOGAF) dalam EA ?

  2. Sebutkan dan Jelaskan Metode Pengembangan Arsitektur TOGAF ?

Selasa, 09 Desember 2025

EA - 4 (Porter Competitive Advantage & Value Chain)

PERTANYAAN !

  1. Apa yang Anda Ketahui Tentang Porter Competitive Advantage & Value Chain ?
  2. Sebutkan dan Jelaskan Porter’s Five Forces (Lima Kekuatan Kompetitif) ?
  3. Sebutkan dan Jelaskan External Value Chain ?
  4. Sebutkan Peran SI/TI dalam Value Chain?

JAWABAN:

  1. Porter Competitive Advantage adalah strategi mencapai posisi unggul melalui kepemimpinan biaya atau diferensiasi yang dibangun berdasarkan analisis Value Chain, yaitu rangkaian aktivitas strategis perusahaan untuk menciptakan nilai guna memahami perilaku biaya dan sumber diferensiasi tersebut.
  2. Porter’s Five Forces (Lima Kekuatan Kompetitif)

    1. Persaingan Antar Perusahaan Sejenis (Rivalry among existing competitors): Intensitas persaingan di antara pemain yang sudah ada di pasar. Semakin ketat persaingan, semakin sulit mendapatkan keuntungan tinggi.

    2. Ancaman Pendatang Baru (Threat of new entrants): Seberapa mudah atau sulit bagi pesaing baru untuk masuk ke industri. Hambatan masuk yang rendah akan meningkatkan kompetisi.

    3. Ancaman Produk Pengganti (Threat of substitute products): Keberadaan produk dari industri lain yang dapat memenuhi kebutuhan yang sama bagi konsumen, yang membatasi potensi penetapan harga.

    4. Kekuatan Tawar-Menawar Pembeli (Bargaining power of buyers): Kemampuan pelanggan untuk menekan harga turun, menuntut kualitas lebih tinggi, atau layanan lebih baik.

    5. Kekuatan Tawar-Menawar Pemasok (Bargaining power of suppliers): Kemampuan pemasok untuk menaikkan harga input atau mengurangi kualitas barang/jasa yang mereka suplai.

  3. External Value Chain (sering disebut sebagai Sistem Nilai atau Industry Value Chain) adalah rangkaian aktivitas yang terjadi di luar operasional internal perusahaan tetapi terhubung langsung dengan rantai nilai perusahaan. Ini mencakup:

    • Rantai Nilai Pemasok (Supplier Value Chains): Aktivitas hulu yang dilakukan oleh penyedia bahan baku atau komponen sebelum masuk ke perusahaan.

    • Rantai Nilai Saluran (Channel Value Chains): Aktivitas distribusi yang dilakukan oleh perantara (distributor, pengecer) untuk membawa produk ke pasar.

    • Rantai Nilai Pembeli (Buyer Value Chains): Aktivitas hilir yang dilakukan oleh pengguna akhir dalam menggunakan produk tersebut.

  4. Sistem Informasi (SI) dan Teknologi Informasi (TI) berperan krusial dalam mendukung dan mengintegrasikan aktivitas Value Chain melalui:

    • Efisiensi Operasional: Mengotomatisasi aktivitas utama (seperti Inbound/Outbound Logistics menggunakan SCM) untuk mengurangi biaya dan waktu.

    • Peningkatan Diferensiasi: Meningkatkan layanan dan pemasaran (misalnya menggunakan CRM dan Data Analytics) untuk memahami kebutuhan pelanggan secara lebih baik.

    • Linkages (Keterhubungan): Mengintegrasikan aktivitas internal perusahaan dengan pemasok dan distributor secara real-time untuk sinkronisasi pasokan dan permintaan.

    • Pengambilan Keputusan: Menyediakan data akurat bagi manajemen untuk memantau kinerja setiap tahap rantai nilai.

Selasa, 02 Desember 2025

EA - 3 (Pemodelan Arsitektur Sistem)

1. Pemodelan Arsitektur Sistem dalam Enterprise Architecture (EA)

Pemodelan arsitektur sistem dalam EA didefinisikan sebagai pendekatan sistematis dan holistik untuk merancang dan mengelola komponen sistem informasi organisasi. Tujuannya adalah untuk memberikan pandangan komprehensif mengenai keadaan organisasi saat ini dan masa depan, membantu optimalisasi sumber daya, manajemen risiko, serta memfasilitasi perubahan. Pemodelan ini menimbang berbagai atribut kualitas arsitektur satu sama lain untuk mencapai struktur yang paling menguntungkan. 

Komponen dan Notasi Pemodelan EA mencakup beberapa lapisan utama yang saling bergantung:

  • Lapisan Bisnis (Business Layer): Menggambarkan proses bisnis dan strategi.

  • Lapisan Aplikasi (Application Layer): Memetakan perangkat lunak yang digunakan.

  • Lapisan Data (Data Layer): Struktur informasi dan basis data.

  • Lapisan Teknologi (Technology Layer): Infrastruktur perangkat keras dan jaringan.

Dalam praktiknya, notasi yang paling dominan digunakan adalah ArchiMate, yang dirancang khusus untuk pemodelan perusahaan yang komprehensif. Selain itu, notasi seperti Unified Modeling Language (UML) dan Business Process Modeling and Notation (BPMN) juga sering digunakan, tergantung pada kebutuhan spesifik evaluasi. Pemodelan ini membantu pengambilan keputusan dengan memungkinkan manajer menilai atribut kualitas seperti keamanan, interoperabilitas, dan kinerja sebelum implementasi dilakukan.

Sebuah contoh konkret penerapan pemodelan sistem terdapat pada pengembangan sistem presensi di Universitas Primakara. Dalam kasus ini, tim pengembang menggunakan notasi UML (seperti Use Case Diagram, Activity Diagram, dan Sequence Diagram) serta Entity Relationship Diagram (ERD) untuk memodelkan sistem presensi berbasis pengenalan wajah (face recognition). Pemodelan ini memungkinkan integrasi antara kebutuhan bisnis (presensi pegawai yang akurat) dengan solusi teknologi (basis data dan interface pengguna), memastikan bahwa struktur data dan alur kerja tervisualisasi dengan jelas sebelum kode program ditulis.

2. Jenis-jenis Pemodelan Arsitektur Sistem Informasi dalam SDLC


A. Classical Waterfall Model

Model pengembangan linier dan sekuensial di mana setiap fase harus diselesaikan sepenuhnya sebelum fase berikutnya dimulai, seperti air terjun yang mengalir ke bawah.
Karakteristik utama model ini adalah strukturnya yang kaku dan dokumentasi yang sangat berat di awal proyek. Tidak ada tumpang tindih antar fase, yang berarti proyek mengalir ke satu arah dari pengumpulan persyaratan hingga pemeliharaan. Kelebihan utama dari model ini adalah memiliki struktur yang sangat jelas dan mudah dipahami, menjadikannya pilihan yang baik untuk proyek dengan persyaratan yang sudah stabil sejak awal. Namun, kekurangannya adalah sulit mengakomodasi perubahan di tengah jalan, dan risiko kegagalan proyek yang mungkin timbul dari desain awal baru akan terlihat di akhir siklus pengembangan. Model ini cocok untuk proyek-proyek yang persyaratannya sangat jelas dan tidak berubah. 

B. Iterative Waterfall Model

Model ini merupakan variasi dari model Waterfall yang mempertahankan struktur sekuensial, tetapi secara eksplisit memungkinkan adanya umpan balik (feedback loops) ke fase-fase sebelumnya untuk perbaikan.


Karakteristik utamanya adalah model ini mengizinkan revisi antar tahap, yang menjadikannya lebih adaptif daripada model klasik, namun tetap mengikuti urutan fase yang logis. Kelebihannya adalah model ini lebih fleksibel daripada model klasik, di mana kesalahan desain atau kekurangan dapat diperbaiki lebih awal setelah umpan balik diterima. Sementara itu, kekurangannya adalah masih kurang responsif dibandingkan model Agile, dan manajemen konfigurasi bisa menjadi rumit ketika terjadi banyak perulangan ke belakang. Model ini paling cocok untuk proyek besar di mana persyaratan sebagian besar sudah dipahami tetapi mungkin memerlukan penyempurnaan teknis saat pengembangan berjalan.

C. Prototype Model

Model Prototipe adalah teknik pengembangan di mana versi awal sistem, yang disebut prototipe, dibangun dengan cepat, diuji oleh pengguna, dan diperbaiki dalam siklus berulang sebelum sistem final dikembangkan.
Karakteristik utamanya adalah fokus pada pengalaman pengguna (user experience) dan validasi konsep secara cepat. Kelebihannya adalah model ini memungkinkan validasi kebutuhan pengguna lebih awal dan secara signifikan mengurangi risiko ketidaksesuaian produk dengan ekspektasi pengguna. Namun, kekurangannya adalah risiko dokumentasi arsitektur yang buruk jika prototipe langsung dijadikan produk akhir tanpa refaktor atau perbaikan struktural yang memadai, atau risiko terjadinya scope creep karena pengguna terus meminta fitur baru pada prototipe. Model ini paling cocok untuk proyek yang persyaratannya kurang jelas atau proyek yang didorong oleh inovasi di mana validasi interface atau konsep adalah kunci.

D. Evolutionary Model

Model Evolusioner adalah pendekatan pengembangan di mana sistem dikembangkan secara bertahap atau inkremental, dengan produk berevolusi melalui versi-versi yang semakin lengkap. Setiap versi yang dirilis berfungsi penuh tetapi memiliki cakupan fungsional yang terbatas, yang kemudian diperluas pada iterasi berikutnya.


Karakteristik utama dari model ini adalah adaptabilitas yang tinggi terhadap perubahan lingkungan bisnis dan kebutuhan pengguna seiring waktu, yang mirip dengan metode
Agile. Kelebihan utamanya adalah pengguna mendapatkan manfaat dari sistem lebih cepat, dan sistem cenderung selalu relevan dengan kebutuhan bisnis karena evolusi berkelanjutan. Namun, kekurangannya adalah kesulitan dalam memprediksi akhir proyek karena cakupan dapat terus berkembang, dan arsitektur sistem bisa menjadi berantakan jika tidak dikelola dengan standar refactoring yang ketat. Model ini sangat cocok untuk sistem informasi yang kompleks dan berumur panjang di organisasi yang mengalami perubahan tujuan strategis.

E. Spiral Model

Model Spiral adalah kerangka kerja pengembangan yang menggabungkan elemen iteratif dengan analisis risiko yang intensif pada setiap putaran spiral. Model ini menekankan pada penentuan, penilaian, dan mitigasi risiko secara terperinci sebelum melangkah ke tahap pengembangan berikutnya.

Karakteristik utama model ini adalah fokusnya yang berat pada identifikasi dan mitigasi risiko pada setiap kuadran, menjadikannya model berbasis risiko. Kelebihannya adalah model ini sangat baik untuk proyek besar dan berisiko tinggi karena keamanan dan kualitas sistem lebih terjamin melalui evaluasi risiko yang berulang. Kekurangan dari model ini adalah biaya yang tinggi dan membutuhkan keahlian analisis risiko yang mendalam. Model ini cocok untuk implementasi sistem Enterprise Architecture skala besar yang melibatkan integrasi data sensitif, di mana risiko keamanan dan kegagalan sistem harus diminimalkan.






Selasa, 25 November 2025

EA - 2 (Komponen Enterprise Architecture)

Enterprise Architecture seperti sebuah cetak biru (blueprint) pada tata letak kota, tapi untuk diterapkan pada perusahaan. Tujuannya agar supaya teknologi yang digunakan benar-benar membantu bisnis, bukan malah menyulitkan.

Terdapat 4 pilar utama dalam Enterprise Architecture, yaitu :

  1. Business Architecture (Arsitektur Bisnis)
    Komponen ini merupakan sebuah fondasi. Jadi, sebelum masuk ke coding atau server, kita harus memahami bisnisnya ini mau dikemanakan. Komponen ini berfokus pada strategi bisnis, peta kapabilitas bisnis, dan alur kerjanya. Contohnya, pada sebuah bank yang ingin meluncurkan  layanan "Bank Digital". Business architecture akan memetakan proses pembukaan rekening baru nasabah secara online(tanpa cabang), dan menentukan unit mana yang memverifikasi data (KYC), serta gimana alur layanan pelangganya.

  2. Data Architecture (Arsitektur Data)
    Setelah kita mengetahui proses bisnisnya, kita perlu juga yang namanya data. Pada komponen ini, kita harus mengatur gimana datanya disimpan, dikelola, serta dipakai. Kita berfokus tidak pada databasenya saja, tapi juga alur informasinya supaya data itu valid dan aman. Fokus komponen ini terletak pada model data, kamus data, aliran data (data flow) dan tata kelola data. Contohnya, masih pada pembahasan sebelumnya terkait bank digital tadi. Jadi, data architecture ini memastikan kalo nasabah memasukkan NIKnya pada aplikasi ponsel (Bank Digital) dan data yang dimasukkan tersebut tersimpan dengan aman didatabase pusat, serta dapat terbaca oleh sistem kredit untuk skor pinjaman, tapi tidak dapat diakses sembarangan oleh pihak staff marketing.



  3. Application Architecture (Arsitektur Aplikasi)
    Komponen ini merupakan "wajah" dan "otak" perangkat lunak yang dipakai. Komponen ini memetakan aplikasi apa saja yang terdapat pada perusahaan dan bagaimana mereka saling berkomunikasi (integrasi). Fokus komponen ini adalah katalog aplikasi, antarmuka (API), dan fungsionalitas sebuah sistem. Contohnya, masih dibank tadi. Jadi, bank tersebut kan memerlukan Mobile App untuk para nasabah, core banking system yang untuk mencatat saldo, dan CRM untuk layanan customer. Komponen ini merancang bagaimana nasabah saat melakukan transfer uang pada mobile app, aplikasi itu memanggil API ke Core Banking untuk melakukan pemotongan saldo secara real-time.

  4. Technology Architecture (Arsitektur Teknologi)
    Komponen ini merupakan lapisan fisik atau infrastruktur yang menopang semuanya. Jika tidak ada ini, aplikasinya tidak dapat berjalan. Komponen ini berfokus pada hardware, jaringan, server, sistem operasi, dan cloud computing. Inti yang ditanyakan seperti, "aplikasi ini berjalan dimana?" dan "servernya kuat tidak, bila diakses banyak orang?". Contohnya, untuk menjalankan aplikasi bank tadi, tim IT memilih menggunakan layanan cloud(seperti AWS atau Google Cloud) agar fleksibel, lalu menggunakan server berbasis Linux dan memastikan jaringannya memiliki firewall berlapis-lapis agar menjamin keamanan transaksi.



    Komponen yang dipelajari : Data Architecture.
    Saya mengira kalo data architecture itu hanya urusan teknis database, tapi ternyata keliru. Saya melakukan coding tanpa perencananaan data yang memadai. Jadinya, data yang dihasilkan tidak konsisten. Ada juga nama dengan format yang bervariasi pada tabel dan juga standarisasi data seperti format tanggal lahir diabaikan. Dari apa yang pernah saya pelajari bahwa untuk meminimalisir pengulangan data atau redudansi, kita memerlukan yang namanya normalisasi, dalam konsep normalisasi ini memiliki 5 form didalamnya, yaitu : 1NF, 2NF, 3NF. dan BCNF Dari yang saya ketahui juga bawha kita bisa menggunakan foreign key untuk meminimalisir pengulangan data dan menggunakan kamus data seperti 2 field berbeda tapi menyimpan informasi yang sama tetapi memakai nama atau format yang tidak sama, seperti 1 filed tidak menggunakan underscore dan yang satunya memakai underscore (namalengkap/nama_lengkap).

Rabu, 19 November 2025

Seni Menemukan 'Waktu Jeda' di Tengah Hiruk Pikuk Kehidupan Modern

Di era yang serba cepat ini, kita sering merasa seperti berada di dalam treadmill tanpa henti. Berbagai tuntutan pekerjaan, komunikasi digital yang tak pernah putus, dan ambisi pribadi seolah menjadi rantai yang mengikat. Rasanya, hari-hari berlalu begitu saja, dari satu janji temu ke janji temu lainnya, tanpa sempat benar-benar berhenti dan menarik napas. Jika Anda merasa akrab dengan kondisi ini, mungkin inilah saatnya untuk menyadari bahwa apa yang paling kita butuhkan bukanlah lebih banyak waktu, melainkan kualitas jeda yang lebih baik.

Waktu jeda atau yang sering disebut downtime bukanlah bentuk kemalasan, melainkan sebuah investasi cerdas pada kesehatan mental dan produktivitas jangka panjang. Banyak dari kita yang merasa bersalah saat mengambil rehat, menganggapnya sebagai pemborosan waktu yang seharusnya digunakan untuk "menghasilkan." Padahal, otak kita memerlukan periode istirahat untuk memproses informasi, menyimpan ingatan, dan yang paling penting, memicu kreativitas. Mengambil waktu 15 menit untuk menikmati secangkir teh tanpa membuka email, misalnya, bisa menjadi strategi mindfulness sederhana yang sangat efektif.

Lantas, bagaimana cara mengintegrasikan jeda yang bermakna dalam jadwal yang padat? Kuncinya adalah mengubah perspektif. Alih-alih menunggu weekend panjang, cobalah menerapkan jeda mikro. Ini bisa berupa berjalan kaki santai selama 5 menit di luar ruangan untuk mendapatkan udara segar, atau sekadar menatap langit dan melatih pernapasan dalam. Jeda ini bertindak sebagai tombol reset mental, membantu kita kembali ke tugas berikutnya dengan fokus yang lebih tajam dan energi yang lebih stabil.

Salah satu tantangan terbesar dalam mencari downtime adalah ketergantungan kita pada gawai. Seringkali, saat kita memutuskan rehat, kita justru beralih dari pekerjaan kantor ke scroll media sosial, yang ternyata sama-sama menguras energi kognitif. Inilah mengapa penting untuk merencanakan "jeda non-digital." Cobalah kembali ke hobi lama seperti membaca buku fisik, berkebun, atau mendengarkan musik tanpa melakukan hal lain. Kegiatan yang melibatkan tangan dan menjauhkan mata dari layar adalah pelarian digital yang paling ampuh.

Pada akhirnya, menemukan keseimbangan hidup bukan berarti membagi waktu 50:50 antara kerja dan istirahat. Ini adalah tentang memastikan bahwa di setiap momen, Anda hadir sepenuhnya. Ketika bekerja, fokuslah pada pekerjaan; ketika beristirahat, fokuslah pada istirahat itu sendiri. Dengan memprioritaskan momen jeda yang berkualitas, kita tidak hanya meningkatkan kesejahteraan diri, tetapi juga menciptakan kehidupan yang terasa lebih kaya, bermakna, dan sepenuhnya manusiawi.

Jadi, sebelum menutup artikel ini, saya mengajak Anda untuk berhenti sejenak, pejamkan mata Anda selama 30 detik, dan biarkan pikiran Anda mengembara. Ini adalah hadiah kecil bagi diri sendiri di tengah kehidupan modern yang menuntut. Mengingat pentingnya well-being ini, jadikan jeda sebagai bagian tak terpisahkan dari agenda harian Anda, bukan sekadar pelarian sesaat.

Tugas I - Architecture Enterprise

  1. Sebutkan dan jelaskan teori DISC (Dominance, Influence, Steadiness, Complience) yang di kemukakan oleh Wiliam Moulton Marston
  2. Anda termasuk dalam kategori Apa pada DISC ?

Jawaban :

Pertanyaan 1 :
1. Dominance
Tipe ini mencerminkan individu yang tegas, berkemauan kuat, dan sangat berorientasi pada hasil. Orang dengan tipe Dominance cenderung melihat lingkungan sebagai tantangan yang harus ditaklukkan, sehingga mereka berkomunikasi secara langsung (to the point) dan berani mengambil keputusan cepat. Meskipun mereka adalah pemimpin alami yang hebat dalam situasi krisis, mereka terkadang dianggap kurang sabar dan terlalu menuntut karena fokus utamanya adalah penyelesaian tugas dan pencapaian target.

2. Influence 
Tipe ini menggambarkan pribadi yang antusias, optimis, dan menempatkan interaksi sosial sebagai prioritas utama. Individu Influence memiliki kemampuan alami untuk memengaruhi dan memotivasi orang lain melalui gaya komunikasi yang ekspresif dan persuasif. Kekuatan utama mereka terletak pada kreativitas dan kemampuan mencairkan suasana, namun mereka sering kali memiliki kelemahan dalam hal ketelitian detail serta konsistensi dalam menyelesaikan tugas karena mudah terdistraksi oleh hal-hal baru.

3. Steadiness
Tipe ini mewakili karakteristik yang tenang, sabar, dan sangat menghargai kestabilan serta keharmonisan. Orang dengan tipe Steadiness adalah pendengar yang baik dan pekerja yang sangat loyal, lebih suka mendukung tim dari balik layar daripada menjadi pusat perhatian. Mereka cenderung menghindari konflik dan menyukai rutinitas yang dapat diprediksi, sehingga tantangan terbesar bagi mereka adalah beradaptasi dengan perubahan mendadak atau lingkungan yang penuh tekanan agresif.

4. Compliance 
Tipe ini berfokus pada ketelitian, akurasi, dan kepatuhan terhadap prosedur serta data. Individu Compliance bekerja secara sistematis, logis, dan analitis dengan standar perfeksionisme yang tinggi untuk memastikan kualitas. Mereka sangat berhati-hati dalam bertindak karena ingin meminimalkan risiko kesalahan, namun hal ini sering membuat mereka terkesan kaku, lambat dalam mengambil keputusan, dan terlalu kritis terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Pertanyaan 2 :
Saya masuk kedalam kategori Steadiness

EA - 6 Zachman Framework

  Tugas : Apa yang Anda Ketahui Tentang Zachman Framework dalam EA ? Sebutkan dan Jelaskan komponen yang masuk dalam Kolom dan Baris pada ma...